Oh hai.. Mari belajar...
Belajar tanganmu menggenggam tanganku, belajar mengerti apa yang ada diotakku, belajar menikmati bagaimana menjadi aku..
Kamu akan terkejut mengetaui tentang aku.
Kamu akan begitu menyukainya :)

Sabtu, 23 Juli 2011

Bersyukurlah setelah mengeluh

Ah, baru saja mendengar tentang Amy winehouse meninggal. Katanya overdosis or something. I don’t know the fact but I’m sad to hear that. – Kalo semisalnya berita itu Cuma hoax belaka, I’m so sorry -
Oke, oke, gue ga kenal dia, dia ga pernah berhubungan dengan gue. Gue Cuma tahu dia, dan dia? Umm, bisa dipastikan 99% tidak mengenalku. Terima kasih.

Lalu kenapa aku sedih? Tiba-tiba terngiang diotakku perkataan seorang dosen yang mengatakan “beberapa berita menarik perhatian jika satu, kejadian berita tersebut dekat dengan kehidupan kita misalnya gempa di Sulawesi tentu lebih menggugah hati kita di Indonesia daripada jika kejadiannya di luar negeri sana. Kedua, jika dia orang yang terkenal, ketiga bla, bla, bla”

Ya, dia terkenal. Aku tahu siapa dia dan aku jadi merasa agak sedikit sedih. Sebenarnya harus aku akui, aku juga udah lupa-lupa banget tampang dia seperti apa. Yang aku tau dia agak nyentrik dan punya rambut hitam, matanya tajam, aku suka perpaduan mata, rambut dan kulitnya. Oh, sorry kalau aku salah orang L

Aku lalu berpikir sambil mandi – oke, sekarang gue udah tau kenapa gue bisa kena flu berat, ternyata aku kurang menyayangi tubuhku dengan mandi jam 1 pagi..ehem ehm, back to the topic, please miss Astrid- aku merasa hidup seseorang dapat berubah seketika. Kita tidak tahu kapan kita mati, apa kita masih bisa berharap bernapas besok, apa kita baik-baik saja, apa yang akan terjadi esok dan esoknya lagi.

Oke, oke, kita semua sudah tau kenyataan itu. Kita semua selalu – paling tidak sekali seumur hidupmu – dihadapkan pada pemikiran, esok adalah misteri dan kita hanya bisa berharap pada Tuhan atau siapapun atau apapun yang engkau percayai. Lalu kita juga selalu – hampir setiap hari – dihadapkan pada kenyataan dimana kita harus bersyukur. Hei, kamu masih bisa membaca tulisan ini, berarti masih ada yang bisa kamu syukuri bukan?!

Aku, kamu, mereka, semua orang tahu mengatakan “ aku bersyukur “, “ terima kasih, Tuhan “ , “ ah, hidup itu indah “ , paling tidak selama hidup kita, sekilas saja, kita pernah mengatakan terima kasih kepada siapa atau apapun yang kita percayai berkuasa pada hidup kita, walau itu dalam hati, walau itu singkat dan mungkin sudah kamu lupakan. Jadi, kenapa harus mengeluh? Kenapa kita – aku, kamu, dia, mereka – selalu saja bertanya : “kenapa, Tuhan ( atau siapapun atau apapun yang kau percayai menguasai hidupmu )?

Jadi siapa yang tidak pernah mengeluh dalam hidupnya?
Aku sebagai sukarelawan akan unjuk tangan bahwa aku makhluk pengeluh nomor yahud. Rambutku rusak karena sudah tidak punya waktu merawatnya akibat sibuk dikantor, aku mengeluh. Aku belum dapat kerjaan padahal baru lulus satu minggu, aku mengeluh. Aku dapat kerjaan dan tidak melakukan apapun, aku mengeluh. Aku punya kerjaan dengan setumpuk tugas didepan mata, aku mengeluh. Aku dapat waktu istirahat penuh, aku mengeluh. Aha, aku punya pacar yang baik pun aku masih saja sering mengeluh.

Banyak mengeluh? Jangan kamu kira kamu tidak melakukannya. Dengan berkata “siaaaal, kerjaan gue banyak banget. Gue ga ada waktu tidur neh” itu sudah mengeluh *tawa iblis* Dengan berkata “gila, kerja begini harusnya dapat gaji gede neh” tentong, kamu sudah mengeluh *nari-nari* Dan bagaimana kalau pacarmu lelet? “ ih, punya pacar atau ga punya pacar sama aja!” itu juga mengeluh, kawan…

Sudah, sudah, ga usah memperdebatkan aku. Pandanganku tentang mengeluh adalah “apa yang tidak kau syukuri dan kamu protes, itu mengeluh” Terlalu luas? Terlalu abstrak? Hahahahhaa, santaaai.. aku tidak bilang mengeluh itu tidak boleh… yang aku sesali adalah aku mengeluh namun tidak melakukan perbaikan. Aku mengeluh namun tidak bertindak. Keluhanku lebih banyak dari rasa syukurku. Inilah yang aku tidak sukai.. mengeluh sama besarnya dengan rasa syukur, malah sering kali derajatnya lebih tinggi dari rasa bersyukur J

Lalu apa aku sudah dapat mengendalikannya? Huaaaa, sama sekali tidak *suara keluhan keras* hikshiks..
Aku akan cerita sedikit saja pengalamanku tadi, aku makan malam sama kakak, kakak ipar, dan sahabatku. Berhubung aku lagi masa penyembuhan, kakakku berniat memanjakanku seratus persen. Jadilah kami makan di restoran kesukaanku. Akibat flu yang mengganggu itu tidak berhenti sejenak selama aku makan, rasa makanannya tidak ada, ga nikmat lagi deh. Disanalah aku mengeluh. Aku kenyang sekenyang-kenyangnya. Aku puas udah makan menu kesukaanku yang kuidamkan dari pagi, pake harga gratis lagi.

Setelah makan, aku dan sahabat ku berpisah dengan kakak dan kakak iparku. Aku dan sahabatku berniat memutari sedikit jalan dengan motor. Di perjalanan pulang aku masih bisa berkata “ ih kesel banget deh, kenyang sih kenyang, tapi makanannya ga berasa. Keseeel”

Dan saat mengatakan itu, kami melewati seorang anak penjual cobek di pinggir jalan. Dia duduk dengan tangan melipat dan kepala diletakkan diantara lipatan itu, seperti kedinginan dan kelaparan. Aku tahu dia sedang menunggu jemputan, aku pernah baca cerita tentang anak-anak penjual cobek disebuah majalah. Mereka diantar pagi dan dijemput malam hari. Mereka juga punya target dalam penjualan, yang pastinya target itu sangat tidak mudah mengingat orang sudah beralih ke blender.

Oh Tuhan, langsung saja kutelan ludahku dan menyesali perkataan yang kuucapkan. Aku langsung meminta sahabatku menengoknya dan memberi bekal makan kepadanya. Bukan aku yang memberi. Kenapa? Karena nanti aku akan menangis. Aku benar-benar menyesal dan memalukan kalau aku menangis dihadapan anak itu. Gue ga maulah dia shock melihat seorang cewek nangis dihadapannya dengan ingus meler dan sesegukan sambil bertanya “hiks, dek, hiks, kamu, hiks, udah, hiikshiks, makan gaa..huaahuhuhuuhu,,, ini huhuhu makaaan hikshuhuhu yah” yang ada itu anak bakal teriak dan berpikir gue alien dari negeri entah berantah yang kehilangan arah -,-
Sooo, apa hubungannya dengan kematian Amy Winehouse, keluhan dan rasa bersyukur serta anak penjual cobek itu?


“ kematian bisa datang kapan saja, tanpa kamu ketahui dan duga, mengeluh boleh saja namun bertindaklah, keluar dari kalimat-kalimat keluhanmu, kemudian bersyukurlah. Selalu bersyukur untuk kejadian sekecil apapun, kalau kamu merasa kamu adalah orang paling menderita didunia ini, itu sah-sah saja, namun ingatlah si anak penjual cobek yang kedinginan dan kelaparan. “


Mari belajar bersama, kita mendapat pengalaman, dan belajar dari pengalaman itu. Tidak ada yang munafik, semua jatuh dan belajar, walau fase itu harus terus diulang, walau nanti aku, kamu, dia, maupun mereka mengeluh, belajarlah kembali bersyukur. Kita harus selalu belajar dan tidak ada kata terlambat untuk selalu beryukur, even sebelumnya kita mengeluh J

Aku tau, mungkin suatu hari bisa saja aku kemakan kata-kataku ini. Aku tau betapa susahnya menjalani ini semua. Namun, tidak ada salahnya kan menyampaikan apa yang aku rasa hari ini? *pembelaan diri*
Santai kawan, kita sama.. semua manusia sama, selalu belajar, sering kali gagal, namun ada saatnya punya semangat untuk memperbaikinya.


Selamat belajar kawan-kawan. Terutama aku :p


Selamat tidur.


Terima kasih Tuhan aku masih punya kesempatan untuk menulis dan tertidur lelap nanti. Semoga aku akan bangun dengan segar, tidak lagi sakit, dan menemukan semua semakin indah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar